Selasa, 08 Februari 2011

Meditasi Ala Mang Ujang


Meditasi Ala Mang Ujang.


Banyak orang merasa alergy terhadap Istilah meditasi, padahal salah satu arti meditasi juga bisa berarti berdoa...itu yang Mang Ujang dapatkan dari salah seorang sahabatnya.Sehingga dalam keseharian, Mang Ujang cuma mengartikan meditasi sekedar untuk mengendorkan ketegangan sehari-hari setelah beraktifitas di Tambak Lele kepunyaan kakaknya.

Biasanya Mang Ujang selesai bersih-bersih menjelang sore malam hari. Setelah aktivitas seharian selesai dan tidak ada target atau tugas yang mengganggu, Mang Ujang Mulai Duduk bersila tanpa menyender. Badan agak tegak tidak melengkung, tujuan menurutnya Simple aja, supaya nggak ketiduran. Ia mulai pejamkan mata, lemaskan seluruh tubuh mulai ujung kaki sampai ujung kepala tanpa kecuali.Keadaan rileks tercapai mang Ujang mulai memperhatikan nafas yang Ia tarik dan hembuskan sambil membayangkan kebesaran Tuhan yang telah memberikan Oksigen untuk bernafas sehingga kita jadi orang yang bersyukur. Hanyut dalam suasana nafas tanpa harus ada tujuan, sehingga sadar tak sadar ternyata rytme nafas semakin tenang,sedikit hanya disekitar hidung. Berbarengan dengan ini biasanya mang Ujang merasakan di atas kepala atau ubun-ubun karena dia juga nggak tau istilah cakra dan lain sebagainya, terasa kepala seakan gatal dan ada hembusan angin. Mang Ujang cuma menikmati ini...tanpa Tujuan.

Didepan sana,Mang Ujang melihat sebuah Gerbang Mewah yang tingii sekali, Mang Ujang berusaha menoleh dan bertanya, Lalu Ia membalikkan badannya seolah ingin melihat masa lalunya, Masa ketia Ia dilahirkan,saat digendong Ibu...ya Ibuu...lalu Ia besar merangkak dan berjalan. Mang Ujang berusaha memaafkan diri untuk tidak takut kepada ketinggian karena pada saat itu Ia terjatuh dari pohon sawo karena belajar memanjat. Dan itu tidak boleh menjadi trauma dimasa yang akan datang. Ibuu...yaaa Ibuuu, yang melahirkanku....Aku harus memohon maaf kepadanya karena hingga Dia Tiada, mang Ujang belum bisa membahagiakan Ibu.

Mang Ujang harus memaafkan Jumeneng yang dengan tega meninggalkannya karena dipaksa kawin oleh oleh orang tuanaya, dan Mang Ujang juga Harus memaafkan seorang Aparat yang menjambak Rambutnya dikarenakan Mang Ujang Kurang sopan meminta sepeda pada saat si cepak duduk di sepeda Mang Ujang. Mang Ujang tidak boleh trauma terhadap aparat dan Wanita!

Mang Ujang berjalan terus dalam kesendirian, Ia berusaha memaafkan para Satpam yang kasar pada saat dia melamar kerja dan memaafkan kegagalan-kegagalan masa Lalu.

Gerbang itu kini terlihat lagi, tapi mang Ujang cuma melihat sejenak ke depan, karena didepan sana ada penjaga yang siap memanah jika kita memasukinya. Itulah masa depanku...gumam mang Ujang...didepan sana aku akan berdiri karena karena sesuatu yang ditanam di masa lalu dan hari ini. Dia saat inilah mang Ujang berdoa berdasarkan apa yang diinginkannya.

Sampai ke gerbang ini mang Ujang akan menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya, karena dia telah banyak memaafkan masa lalu dan menanamkan kebaikan dimasa lalu dengan penuh keyakinan.

Tak terasa satu jam berlalu dalam kesendirian mang Ujang terusik....Tuhanku masih ada dan mendengar segala permintaan hambanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar